Hati seseorang bisa tetap sehat dan baik jika dirawat. Sebaliknya, jika tidak dirawat, maka hati menjadi sakit dan bahkan mati. Orang yang hatinya sedang sakit, maka pikirannya juga sakit. Orang yang pikirannya sakit maka yang bersangkutan tidak akan bisa berpikir jernih. Emosinya tidak bisa dikendalikan, apa saja dilakukan seenaknya, dan tidak memperhitungkan bahwa tindakannya akan merugikan, baik terhadap dirinya sendiri atau bahkan orang lain. Orang yang sedang marah adalah contoh bahwa hatinya sedang sakit. Orang yang demikian itu, perilakunya cenderung merusak.

Lebih buruk lagi adalah orang yang hatinya telah mati. Yang bersangkutan sudah tidak lagi mengenal baik dan atau buruk, pantas dan tidak pantas, mencelakakan atau tidak. Apa saja, asalkan dimaui akan dilakukannya. Orang yang hatinya mati, maka sifat-sifat kemanusiaannya hilang, dan tidak memeliki rasa lagi. Mereka melakukan apa saja hanya untuk memenuhi nafsunya. Orang yang hatinya sakit dan apalagi mati, maka akan membahayakan terhadap semua orang.

Siapapun yang hatinya sedang sakit, maka kepintarannya dan apalagi kecerdasannya tidak akan kelihatan. Seorang ayah jika hatinya sakit, maka keluarganya akan terkena marah olehnya. Demikian pula, seorang ibu tatkala sedang marah, maka anaknya dan siapa saja akan dimarahi. Semua orang dianggap olehnya serba salah. Seorang ibu yang sedang hatinya sakit maka ia misalnya, tidak mau menyiapkan makanan untuk suaminya, dan atau bahkan meninggalkan rumah, tidak jelas tujuannya. Orang yang sedang sakit hati, maka sangat membahayakan terhadap lingkungannya.

Dampak yang lebih jauh lagi dari sakit hati adalah jika hal itu diderita oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin jika hatinya sedang sakit, sebagaimana orang pada umumnya, maka tidak akan mampu mengendalikan emosinya, sehingga apa saja akan dilakukan sekalipun membahayakan. Oleh karena itu, siapapun yang sedang menjadi pemimpin, maka hatinya harus sehat dan baik. Seorang pemimpin tidak boleh sakit dan apalagi mati. Persoalannya adalah bagaimana merasawat hati hingga menjadi tetap sehat.

Orang yang hatinya sedang sakit tidak memikirkan bahwa perilakunya akan mengakibakan kerusakan. Mereka akan melakukan apa saja asalkan hatinya senang. Justru ketika berhasil menjadikan orang lain sengsara, maka ia malah senang. Disebutkan bahwa menjadi senang tatkala melihat orang lain susah dan sebaliknya, susah tatkala melihat orang lain senang. Oleh karena itu sebenarnya orang yang suka membuat kerusakan di bidang apa saja, misalnya di bidang politik, ekonomi, sosial dan lain-lain adalah pertanda bahwa orang yang demikian itu hatinya sedang sakit. Tentu sangat berbahaya, dan apalagi hal itu dialami oleh orang yang sedang mendapatkan amanah mengurus hajat orang banyak.

Perilaku koruptif, menyalah gunakan wewenang atau jabatan, tidak menunaikan amanah, dan atau juga melakukan teror adalah buah dari penyakit hati. Orang yang sedang sakit hati cenderung menyukai kerusakan. Apa saja dibikin rusak, dan dengan begitu mereka menjadi senang dan puas. Oleh karena itu, jika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini selalu saja timbul konflik, pertikaian, perebutan apa saja tidak terkecuali jabatan, saling menyalahkan di antara sesama, selalu mengungkit-ungkin kesalahan orang lain, maka sebenarnya hal itu pertanda bahwa sebenarnya ada pihak-pihak yang hatinya sedang sakit.

Orang yang sedang sakit hati dan apalagi hatinya beku dan atau mati, maka tindakannya tidak saja jauh dari norma, adat istiadat, tata krama, sopan santun, dan sejenisnya, tetapi juga mengingkari hati nuraninya. Menyembuhkannya tidak mudah, apalagi ketika sudah dialami oleh banyak orang. Lebih berbahaya lagi, adalah orang yang hatinya sakit tetapi tidak mengetahui bahwa dirinya sedang sakit. Dalam keadaan seperti itu justru dianggap sakit adalah orang lain yang sebenarnya sehat. Itulah berbahayanya bagi orang atau masyarakat yang sedang mengalami sakit hati.

Menjaga kesehatan hati adalah sangat penting dan bahkan harus dilakukan oleh setiap orang secara terus menerus. Orang yang berhati sehat biasanya mampu bersyukur, sabar, ikhlas, amanah, dan istiqomah. Sifat mulia itu hanya akan tumbuh jika yang bersangkutan menyadari keberadaannya. Kesadaran adalah kata kuncinya, yaitu sadar akan kejadiannya, keberadaannya, posisinya di tengah masyarakat, dan berbagai keterbatasannya. Kehadiran agama sebenarnya adalah mengajak pemeluknya memiliki sifat mulia itu. Menjalankan ajaran agama bagi siapapun, sebenarnya adalah sama halnya dengan merawat hati.

Kehadiran agama sebenarnya adalah untuk menyehatkan dan menjernihkan hati. Oleh karena itu, hati orang beragama seharusnya sehat dan baik. Perilaku mereka seharusnya juga selalu menyenangkan terhadap siapa saja. Maka, jika ada orang mengaku beragama, tetapi selalu melakukan sesuatu yang tidak semestinya, atau menyusahkan orang lain, misalnya korupsi, menyalah gunakan wewenang atau kekuasaan, mengadu domba, dan apalagi melakukan teror hingga mengakibatkan banyak orang celaka dan bahkan mati, maka sebenarnya cukup menjadi alasan untuk mengatakan bahwa yang bersangkutan sebenarnya perlu dipertanyakan kualitas keberagamaannya. Wallhau a�lam. 

Reaksi: