doc : Imamsuprayogo.com

Kerincigoogle.com, Setiap orang tatkala berbicara tentang pendidikan, maka perhatiannya segera tertuju pada akal peserta didik. Dianggap bahwa akalnya itu yang harus dididik. Manakala akal berhasil diisi dengan informasi yang cukup banyak, dan juga dilatih untuk menganalisisnya, maka yang bersangkutan dikira akan menjadi pintar dan atau semakin cerdas. Selanjutnya, orang yang cerdas itulah hidupnya akan sukses.

Anggapan tersebut diyakini benarnya. Maka, tatkala menyebut pendidikan, orang segera membicarakan tentang kurikulum, buku teks, daya serap peserta didik, ujian, dan sejenisnya. Orang mempercayai bahwa, manakala kurikulum telah disusun dan diajarkan, maka peserta didik akan berubah, setidak-tidaknya berubah menjadi pintar atau banyak informasi yang didapat. Ujian yang dilaksanakan juga sekedar untuk mengetahui seberapa banyak informasi dan ilmu pengetahuan yang telah diberikan dikuasai oleh para muridnya.

Atas anggapan bahwa informasi dan ilmu pengetahuan yang diberikan oleh guru mampu mengubah atau memperkaya pengetahuan peserta didik, maka pengajaran juga dibuat target, baik menyangkut bahan yang diajarkan, waktu yang digunakan, cara mengajarkan, dan bahkan juga cara mengevaluasinya. Akhirnya mendidik disamakan dengan mengisi sebuah tempat dengan sesuatu. Padahal otak manusia tidak akan bisa disamakan dan bahkan sekedar dimiripkan dengan tempat untuk menampung sesuatu dimaksud.

Otak manusia adalah bagaikan tempat yang bocor. Tatkala diisi dengan pengetahuan atau informasi maka segera hilang. Hal demikian itu oleh karena manusia memiliki sifat yang tidak menguntungkan, yaitu salah dan lupa. Mungin saja informasi atau pengetahuan yang diterima oleh para siswa salah dipahami, atau juga segera dilupakan. Bahkan, jangankan para siswa yang menerima penjelasan, sedangkan guru yang mengajar saja setelah lewat beberapa hari, mereka juga mengalami kelupaan. Tidak saja guru yang mengajar yang lupa, bahkan para pengarang buku yang dipelajari dimaksud juga telah lupa tentang apa yang telah ditulisnya.

Di antara tujuan pendidikan adalah agar peserta didik menjadi cerdas, terampil, ulet, mandiri, bersemangat, mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat, menjauhkan diri dari perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, dan seterusnya. Manakala tujuan pendidikan itu adalah sebagaimana disebutkan itu, maka yang perlu direnungkan secara mendalam dan saksama adalah bagian tubuh mana yang sebenarnya menjadi kekuatan atau sumber aktifitas gerak seseorang.

Manakala yang menjadi pusat atau sumber gerak kegiatan manusia adalah otak, maka benar bahwa otaklah yang seharusnya diperkuat. Agar kuat maka otak harus dididik dan diajar. Akan tetapi manakala sumber gerak manusia itu bukan otak, tetapi bagian tubuh manusia yang lain, maka seharusnya yang dididik atau diajar adalah sumber kekuatan penggerak yang dimaksudkan itu.

Dalam pembicaraan sehari-hari, ketika misalnya, seseorang memegang hidupngnya, maka akan mengatakan bahwa ini adalah hidungku. Tatkala memegang kakinya, tangannya, kepalanya, mulutnya, perutnya, dadanya, dan seterusnya, maka yang bersangkutan akan mengatakan ini milikku. Maka, �aku�lah yang memiliki semua anggota badan itu. Maka, ketika orang berpikir akan mengatakan bahwa, ia telah menggunakan otaknya. Jika demikian itu halnya, maka sebenarnya �aku�lah pemilik semua anggota tubuh, dan �aku� pula yang menggerakkan seluruh bagian tubuh manusia.

Jika cara berpikir tersebut dianggap benar, maka seharusnya yang dididik adalah �aku�, dan bukan otak, telinga, mata, kaki, tangan, dan seterusnya. Sebab semua anggotra badan yang dimaksudkan itu, hingga otak sekalipun, posisinya adalah hanya digerakkan atau memenuhi perintah pemiliknya, yaitu �aku�. Maka �aku�lah yang seharusnya dididik atau diubah. Demikian pula untuk merubah sebuah komunitas, maka yang perlu diubah adalah siapa yang menjadi kekuatan penggerak komunitas itu. Contoh lain yang lebih mudah, apabila ingin mengubah kampus, maka sasaran utama yang diajak berubah adalah pimpinannya, atau rektornya, dan bukan tata usahanya.

Lewat penjelasan di muka, maka dapat dipahami bahwa pemilik keseluruhan tubuh manusia, adalah aku, atau sesuatu yang berada di dalam hati setiap orang. Sesuatu yang berada di dalam hati itulah sebenarnya yang merupakan �aku� atau pusat penggerak kegiatan tubuh manusia. Itulah sebabnya, �aku� tersebut yang seharusnya dididik. Namun sementara ini, kebanyakan konsentrasi para ahli pendidikan hanya tertuju pada akal atau otak. Padahal keseluruhan tubuh manusia menjadi bergerak oleh karena disuruh atau diperintah oleh apa yang ada di dalam hati. Sementara benda itu ternyata tidak selalu mendapatkan pendidikan.

Kegiatan mendidik pemilik akal atau bisa disebut hati nurani ternyata belum terlalu banyak memperoleh perhatian. Orang mendidik akal atau otak, tetapi melupakan mendidik pemilik akal. Mendidik pemilik akal berbeda dari melatih akal dan anggota tubuh lainnya. Konsep mendidik hati tidak bisa dikarang, tetapi berasal dari petunjuk Tuhan yang dapat dibaca di kitab suci dan hadits Nabi-Nya. Pemilik atau �aku� itu disebut ruh. Sedangkan ruh adalah urusan Tuhan. Sementara itu, Tuhan telah memberikan cara mendidiknya, sedangkan manusia tinggal mengikutinya. Persoalannya, apa mereka mau ? Wallahu a�lam 

Reaksi: