Foto : Imam Suprayogo bersama duta besar saudi

Kerincigoogle.com, Banyak orang mengatakan bahwa Indonesia ini tanahnya subur, luas, banyak kekayaan alam, tetapi ternyata idak semua rakyatnya berhasil mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Mereka itu disebut miskin, tidak memiliki pekerjaan yang hasilnya mencukupi kebutuhan hidupnya. Apapun keadaannya, sebagian bertahan di tempat kelahirannya, namun tidak sedikit yang hengkang pergi ke negara lain, mencari pekerjaan, berapapun gaji yang didapat, oleh karena apa yang bisa dikerjakan tidak berbekalkan pengetahuan dan ketrampilan yang jelas. Pergi ke luar negeri dirasakan lebih menguntungkan , dibanding tetap bertahan di tempat kelahirannya sendiri.

Pertanyaan mendasar yang seharusnya dijawab adalah mengapa berada di tanah yang subur, luas, memiliki berbagai potensi tambang dan sebagainya, tetapi gagal memperoleh peluang kerja. Siapa sebenarnya yang patut disalahkan. Tentu menjawabnya tidak mudah. Umpama mereka mampu mengoptimalkan berbagai potensinya, memiliki ketrampilan, dan mampu bersaing, maka mereka akan bertahan di negerinya sendiri. Mereka tidak sekedar gagal bersaing dengan orang lain, tetapi justru bisa mempekerjakan orang lain yang datang ke tempat kelahirannya itu.

Orang yang datang sebagaimana dimaksud ternyata lebih unggul, yakni lebih lihai, lebih bisa berkomunikasi dengan siapapun, bisa menangkap peluang atau berbagai potensi, sehingga mereka mampu memenangkan persaingan. Rupanya dalam kehidupan di dunia ini selalu terjadi persaingan. Dalam persaingan itu, siapapun yang kuat dan atau memliki kelebihan, maka merekalah yang menang. Sebaliknya, yang lemah akan kalah dan akibatnya akan tersisih. Oleh karena itu, cerdas, rajin, ulet, dan seterusnya adalah modal yang seharusnya dimiliki oleh siapapun yang menginginkan untuk memperleh kemenangan dalam berkompetisi apapun di dunia ini.

Oleh karena itu, siapa saja yang kalah bersaing maka tidak perlu menyalahkan mereka yang lebih kuat, lebih pintar, ulet, dan seterusnya. Seharusnya, yang bersangkutan segera mempertanyakan, mengapa selama ini tidak berhasil memperukuh dirinya sendiri. Pertanyaan mengapa dirinya sendiri tidak berhasil menjadi cerdas, tidak ulet, tidak istiqomah, tidak mampu menyusun strategi di dalam memperkukuh dirinya sendiri, tidak menggunakan akalnya secara maksimal, tidak memiliki rasa takut kalah bersaing, dan pertanyaan-pertanyaan lain lainnya adalah harus dijawab dan kemudian dijadikan kekuatan pendorong perubahan dirinya sendiri.

Kesalahan hingga menjadikan gagal mengembangkan diri sendiri seharusnya disadari. Selain itu, kesalahan pada dirinya itu semakin jelas dari kenyataan bahwa tidak semua orang yang lahir di tempat itu mengalami nasib yang sama. Banyak orang sukses dalam berbagai hal. Dengan demikian perlu dikembangkan pikiran bahwa jika orang lain berhasil, maka seharusnya semua mengalami keadaan seperti itu. Sebab, setiap orang lahir dalam keadaan sama. Semua tidak memiliki apa-apa, kecuali berbagai potensi yang siap dikembangkan. Kegagalan, kalau itu terjadi, bukan disebabkan orang lain, tetapi karena kekeliruan dirinya sendiri.

Oleh karena itu sebenarnya musuh itu bukan dari pihak lain atau bersifat eksternal, melainkan yang paling dominan adalah berasal dari dirinya sendiri. Bahngsa ini menjadi tidak hebat, tidak maju, kalah bersaing, bukan oleh karena factor eksterrnal, tetapi karen kelemahan dirinya sendiri. Memang, dahulu ada penjajah mengambil berbagai jenis kekayaan bangsa ini, tetapi pertanyaannya adalah mengapa mereka hingga berhasil masuk dan menjajah. Para penjajah berhasil masuk, oleh karena bangsa ini ketika itu belum mempu memperkukuh dirinya sendiri. Tidak bersatu, misalnya.

Ke depan persaingan itu semakin dahsyat. Hukum persaingan hingga sekarang masih sama, yaitu siapa yang kuat, maka mereka yang menang. Apalagi, di zaman yang semakin terbuka, pesaing itu semakin banyak jumlahnya. Manakala bangsa ini tidak memperkukuh kemampuannya, maka dipastikan akan kalah. Orang luar akan datang dan menguasai berbagai potensi dan kekayaan yang dimilikinya. Jika sekarang ini banyak orang hengkang ke luar negeri mencari pekerjaan seadanya, maka juga bisa jadi bangsa ini akan menjadi buruh di negerinya sendiri. Aneh, tuan rumah menjadi buruh di rumahnya sebagai akibat tidak mampu melawan musuh dari dirinya sendiri. Wallahu a�lam.


Sumber : http://imamsuprayogo.com
Reaksi: