Prof Imam Suprayoga : Perenungan Diri /imamsuprayogo.com/Doc.

Sehari-hari media masa menyuguhkan berbagai macam berita tentang permasalahan bangsa yang sedemikian banyak, rumit dan berat untuk diselesaikan. Satu masalah belum selesai segera disusul oleh masalah lainnya yang tidak kurang rumitnya. Persoalan kesenjangan sosial yang sedemikian lebar, kerja birokrasi yang belum memuaskan, konflik vertikal maupun horizontal di berbagai bidang kehidupan dan tidak terkecuali juga di kalangan elite bangsa, penyimpangan anggaran dan korupsi yang tidak mudah diberantas, kualitas pendidikan yang belum membanggakan, hingga penyimpangan di dalam penyelenggaraan perguruan tinggi yang menyebabkan ijazah yang dikeluarkannya tidak boleh digunakan untuk melamar pekerjaan, dan lain-lain. 

Jika diteliti dan dihayati secara saksama, maka persoalan bangsa itu sebenarnya bersumber dari manusianya sendiri. Manusianyalah yang bermasalah, lebih-lebih terjadi pada para elitenya. Korupsi dilakukan oleh para pemimpin, pejabat, dan elite bangsa. Tidak terdengar rakyat kecil melakukan korupsi. Demikian pula penyimpangan anggaran dan bahkan juga penyelenggaraan perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, pelakunya juga orang-orang terdidik. Persoalan tersebut juga bukan disebabkan oleh rendahnya kemampuan intelektualnya, melainkan pada wilayah hati atau akhlaq manusia itu sendiri. 

Cobalah selintas kita perhatikan akar persoalan itu. Dimulai dari adanya perebutan jabatan politik di berbagai lapisan, mulai menjadi bupati, wali kota, anggota DPRD, gubernur, DPR, dan lain-lain. Perebutan itu, bagaikan berjudi dalam skala besar, pasti mengeluarkan banyak uang. Baik yang kalah maupun yang menang pasti harus membelanjakan uangnya hingga habis-habisan. Siapapun akan mempercayai hal itu. Selanjutnya, oleh karena menjadi pejabat publik selalu bermodalkan uang, maka muncul pandangan bahwa uang adalah segala-galanya. Belum lagi dalam proses itu juga terjadi kolusi, memback-up calon pemimpin oleh para pengusaha, yang kemudian juga berakibat terjadinya monopolli proyek, kong kalikong, dan seterusnya. Semua itu tidak mudah dibuktikan, akan tetapi dengan mudah masyarakat merasakannya. 

Kecintaan terhadap jabatan dan kekayaan yang berlebih-lebihan itulah yang menjadikan sumber petaka kehidupan bermasyarakat dan negara. Apalagi penyalkit itu masih disempurnakan dengan sifat tamak, bakhil, dan rakus sehingga hati mereka menjadi gelap. Orang yang seperti itu jika menjadi pemimpin maka kepemimpinannya akan dipenuhi oleh suasana kecurigaan, konflik, permusuhan, saling menjatuhkan, sehingga tidak akan berhasil menjadikan rakyat semakin tenang, damai, dan apalagi sejehtera. Konflik, permusuhan, saling menjatuhkan dan memenjarakan di antara orang-orang yang berebut kuasa adalah menjadi sesuatu yang biasa. Perilaku dimaksud, dalam ajaran Islam masuk wilayah akhlak yang tidak terpuji. Sedangkan persoalan akhlak, kapan saja, tidak mudah diselesaikan. Padahal dampak kerusakannya amat luas, hingga menyeluruh ke berbagai aspek kehidupan. 

Umpama para elite bangsa semuanya berakhlak mulia, yaitu mereka jujur, amanah, siddiq, dan fathonal, serta tidak tamak, maka persoalan bangsa ini akan berhenti dengan sendirinya. Namun oleh karena para pemimpin, pejabat, tokoh, dan elite bangsa yang menyandang akhlak mulia jumlahnya amat terbatas, maka persoalan bangsa menjadi amat sulit dicari penyelesaiannya. Terasa sekali, seolah-olah bangsa ini sedang berada pada musim kemarau atau krisis pemimpin yang layak disebut berakhlaq mulia. Akibatnya, persoalan bangsa menjadi tidak pernah berhenti. Konflik atau permusuhan yang satu belum sepenuhnya terselesaikan, maka muncul konflik dan permusuhan berikutnya. Bangsa ini menjadi tepat disebut sebagai kaya masalah. Akhirnya, kedamaian dan kesejahteraan lahir dan batin terasa menjadi semakin jauh dari harapan. 

Persoalannya adalah bagaimana sebenarnya memperbaiki akhlak itu. Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Sebab dalam suasana seperti ini, tidak jelas siapa seharusnya memperbaiki akhlak siapa. Selain itu, orang sudah terbiasa menjawab berbagai persoalan, termasuk persoalan hati manusia, hanya dengan pendekatan rasional ilmiah. Mereka mengatakan bahwa kebobrokan akhlak itu harus diselesaikan dengan pendidikan. Sementara itu, tatkala berbicara pendidikan, maka yang akan dipebincangkan adalah kurikulum, guru yang mengajar, penataran, evaluasi dan pertanggung jawaban pelaksanaan semua kegiatan itu. Padahal pendidikan akhlak tidak akan berhasil tatkala hanya ditempuh dengan cara itu. Pendidikan akhlak adalah menyentuh persoalan hati, jiwa atau ruh yang tidak memerlukan bahan ajar dan cara-cara atau pendekatan sebagaimana dalam mengajarkan ilmu pengetahuan pada umumnya. 

Selain itu, konsep pendidikan akhlak bukan menjadi otoritas sembarang orang, melainkan adalah otoritas utusan Allah. Adalah Muhammad, saw., yang ditugasi untuk memperbaiki akhlak umat manusia. Rasul terakhir ini meninggalkan dua pegangan, yaitu kitab suci al Qur�an dan Hadits Nabi. Sayangnya, dalam dunia modern seperti sekarang tidak mudah meyakinkan kepada semua orang, bahwa memperbaiki bangsa yang sedang karut marut seperti sekarang ini seharusnya ditempuh dengan membangun akhlaknya. Persoalan lainnya, juga tidak mudah meyakinkan bahwa akhlak mulia hanya bisa diselesaikan dengan kitab suci dan tauladan kehidupan nabinya. Di dalam al Qur�an disebutkan misalnya, bahwa shalat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar. 

Namun oleh karena pada kenyataannya, banyak orang yang menjalankan shalat tetapi perilakunya tidak bisa dibedakan dengan yang lain, maka tidak mudah orang mempercayai ibadah itu bisa digunakan memperbaiki akhlak. Padahal belum tentu shalat yang dijalankan dimaksud oleh yang bersangkutan sendiri diniatkan untuk menjauhkan dirinya dari berbuat keji dan mungkar. Dalam Islam, niat sangat berpengaruh pada efektifitas kegiatan apa saja. Selain itu, sholat yang dilakukan bisa jadi tidak sempurna, misalnya antara aspek fi�liy, qouliy, dan qolbiy, tidak padu, sehingga tidak akan mendapatkan apa-apa. Akibatnya, akhlak yang bersangkutan selamanya gagal diperbaiki. Perbaikan akhlak hanya akan bisa diselesaikan dengan shalat yang sempurna dan sebagaimana ditegaskan oleh Rasul, yaitu dengan menjadikan al Qur�an dan Hadits Nabi sebagai petunjuk dalam kehidupan sehari-hari. Manakala konsep itu dijalankan sepenuhnya, dan dimulai oleh para pemimpin bangsa, khususnya yang beragama Islam, dimulai sekarang, di sini, dan dari dirinya masing-masing, maka Insya Allah, bangsa ini akan bangkit dan terselesaikan masalahnya. Wallahu a�lam.  (Prof Imam Suprayogo : Ketua Umum Jam’iyyatul Islamiyah)

Reaksi: