Foto : Imamsuprayoga.com . doc
Orang kampung yang tidak pernah bersekolah sekalipun ternyata mampu melakukan sesuatu secara bijak atau arif, agar orang lain tidak terganggu atau tersinggung perasaannya. Jangan dikira orang kampung yang hidup jauh dari perkotaan tidak mengerti bagaimana menjaga perasaan orang lain. Mereka ternyata lebih pintar dan arif, sehingga dengan caranya itu kehidupan yang harmoni berhasil diwujudkan.

Dalam tulisan ini, sengaja saya menggunakan sebutan orang kampung, bukan ingin merendahkannya, tetapi justru sebaliknya, yaitu menunjukkan bahwa kearifan tidak hanya diperoleh dari lembaga pendidikan, tetapi juga bisa dari pergaulan sehari-hari di dalam kehidupan keluarga, misalnya. Pada umumnya, orang kampung selalu menjaga kehidupan harmonis. Mereka tidak menyukai keributan, banyak berbantah, dan bahkan mereka selalu menjaga perasaan sesama.

Orang kampung tidak saja saling menjaga keamanan dan keselamatan bersama dari aspek fisik, tetapi juga perasaan di antara sesamanya. Kalimat atau perkataan yang diperkirakan menyinggung perasaan orang lain, biasanya diusahakan untuk dihindari. Tetapi sekiranya sesuatu harus disampaikan, oleh karena dianggap penting, maka dilakukan dengan cara berbisik, agar orang lain tidak mengetahuinya. Jika tidak demikian, mereka menunggu waktu atau tempat yang sekiranya tepat, sehingga orang lain tidak akan mendengarkan .

Kehati-hatian tersebut sudah menjadi hal yang lumrah. Banyak orang berpegang pada prinsip bahwa ucapannya jangan mengganggu perasaan orang lain. Umpama ada orang yang tidak peduli terhadap hal tersebut, dan melanggar kebiasaan dimaksud, sehingga menjadikan orang lain terganggu perasaanya, maka yang bersangkutan dianggap tidak mampu menjaga sopan santun. Orang yang demikian itu dianggap tidak bisa menempatkan diri, atau kurang bisa bergaul. Dengan saling menjaga perasaan itu, maka kerukunan, ketenteraman, dan kedamaian benar-benar bisa dirasakan oleh semuanya.

Kearifan sebagaimana digambarkan tersebut ternyata justru sudah tidak mudah ditemukan pada masyarakat modern dan berpendidikan seperti sekarang ini. Mungkin saja didasari oleh semangat keterbukaan, kebebasan, dan keberanian yang dirasakan sebagai kebenaran, maka apa saja dibicarakan secara terbuka. Sekedar mengucapkan selamat natal dan tahun baru saja, misalnya, dijadikan perbantahan hingga tidak ada habisnya. Perbantahan itu juga disampaikan di media sosial sehingga pasti dibaca oleh siapapun, tidak terkecuali oleh mereka yang akan diberi ucapan selamat itu.

Maka bisa jadi, orang yang mendengarkan perbantahan itu akan tersenyum dan bertanya-tanya, mengapa sekedar akan memberi ucapan selamat saja, yang belum tentu ada maknanya bagi yang diberi ucapan itu, ternyata sudah diributkan. Mendengarkan perdebatan itu, orang yang menerima ucapan tersebut mungkin bertanya-tanya. Misalnya, bukankah ucapan yang disampaikan dan belum tentu menambah arti peringatan itu, ternyata melahirkan perdebatan panjang.

Memang mengucapkan selamat natal, dianggap sebagai bagian penting dari aqidah yang seharusnya dijaga. Persoalan tersebut di dalam Islam harus berhati-hati, dan atau tidak boleh sembarangan. Akan tetapi, jika perdebatan itu dilakukan secara terbuka, juga akan melahirkan kesan bahwa Islam itu terlalu kaku, dan pemeluknya dianggap tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan. Padahal menunjukkan bahwa Islam itu adalah ramah, menghormati dan menghargai sesama, juga sangat diperlukan, lebih-lebih untuk berdakwah. Dakwah tidak akan berhasil, jika dilakukan secara kaku.

Padahal umpama saja mau meniru kearifan orang kampung, bahwa apa saja yang sekiranya melahirkan perbantahan berhasil dihindari, maka Islam akan terasa indah dan sejuk. Perbantahan seharusnya tidak perlu dilakukan secara terbuka. Dalam kehidupan ini, seharusnya hati dan perasaan selalu dijaga agar tidak ada yang merasa terganggu. Oleh karena itu, siapa saja kiranya perlu belajar kembali kepada siapa saja tentang kearifan, tidak terkecuali kepada orang kampung. Orang kampung dan atau orang yang belum banyak mengenyam pendidikkan, ternyata mampu bersikap arif dan bijak. Wallahu a�lam (Prof Imam Suprayogo : Ketua Umum Jam’iyyatul Islamiyah)

Reaksi: