Foto: Imamsuprayoga.com . Doc

Tidak sebagaimana terhadap berita lainnya, ketika membaca bahwa menjelang natal gereja harus diamankan maka saya segera menenung panjang dan bertanya-tanya, untuk apa hal itu dilakukan. Bukankah gereja adalah tempat ibadah yang seharusnya selalu aman. Terhadap semua tempat ibadah, tidak terkecuali gereja, seharusnya siapapun harus menjaga keamanannya. Pertanyaan selanjutnya, siapa yang dianggap akan mengganggu gereja dan juga jama�at yang akan melakukan kebaktian di tempat itu. 

Sekedar berjaga-jaga sebagai bagian dari kewaspadaan, sebenarnya memang perlu dan tidak mengapa. Bisa saja orang yang sebenarnya bukan atas alasan agama, sengaja mengggu orang-orang yang sedang melakukan kebaktian di tempat itu. Persoalan toleransi atau saling menghormati dalam beragama, bagi bangsa Indonesia, sebenarnya sudah tidak perlu diperbincangkan lagi. Semuanya sudah menyadari bahwa bangsa ini adalah majemuk, bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika, berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Semua warga bangsa ini memberi ruang seluas-luasnya untuk menjalankan keyakinan agamanya masing-masing. 

Namun bangsa yang santun, saling menghormati sesama, tidak menyukai keributan, dan sejenisnya itu ternyata tidak sepi dari pengaruh yang datang dari luar dan bahkan kemudian mencoba mengganggu. Kekuatan luar itu berasal dari berbagai arah dan juga memiliki tujuan tertentu. Misalnya, mereka ingin memperoleh untung dari upayanya melakukan propokasi, memecah belah, dan bahkan memfitnah itu. Itulah sebabnya, diperlukan kewaspadaan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. 

Ketika datang hari natal seperti sekarang ini, seharusnya semua pihak ikut gembira, sebagaimana gembiranya ketika umat lain memperingati hari besarnya. Semua patut ikut gembira oleh karena sesama warga bangsa sedang merasa bahagia. Kegembiraan itu patut ditunjukkan, oleh karena umat Kristen dan Katholik masih mencintai gerejanya, mau melaksanakan kebaktian, ingat seseorang yang dicintainya, dan seterusnya. 

Kita tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi, jika orang Kresten dan Katholik sudah tidak lagi mengenal gerejanya, mengenal hari-hari besar yang seharusnya diperingati dan dijadikan momentum untuk melakukan kebaktian. Demikian pula hal yang sama, semua sedih seumpama orang Hindu sudah tidak peduli pada agamanya, orang Budha juga sudah melupakan Viharanya, dan begitu pula, semuanya harus kecewa ketika umpama orang Islam sudah melupakan masjid, melupakan sholat lima waktu, zakat, puasa dan beribadah haji. Melihat orang yang masih mau mengingat Tuhannya, maka siapapun akan bersyukur dan apalagi mereka juga berbuat baik dan terpuji. 

Problem bangsa ini akan tetap sulit diselesaikan adalah ketika orang beragama tidak peduli dan tidak menjalankan agamanya. Mereka akan hidup tanpa pedoman kecuali dengan nafsu yang tidak mengenal batas. Akibatnya, mereka tidak akan merasa puas dengan apa saja yang dimiliki, tidak peduli pada orang lain, menumpuk harta yang belum jelas kegunaannya, mengejar jabatan hanya untuk kepentingan kesombongannya, tidak mau menghargai dan menghormati orang lain, dan seterusnya. Itulah perilaku orang yang tidak mengenal agama. 

Umpama bangsa Indonesia itu benar-benar beragama, dan menjalankan ajaran agamanya, maka sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Peringatan atau hari besar apa saja, oleh agama apa saja, tidak perlu diamankan. Tempat ibadah adalah merupakan tempat yang seharusnya aman dari ancaman apapun dan dari siapapun. Jika masih ada orang yang mengganggu, maka sebenarnya mereka itu adalah orang yang tidak mengerti tentang agamanya dan atau adalah orang yang tidak beragama. 

Dalam sejarah agama, tidak ada nabi atau rasul yang mempelopori untuk merusak tempat ibadah agama apapun, demikian juga terhadap kitab suci, dan hal lain yang seharusnya dijaga. Agama datang untuk memperbaiki umat manusia yang sedang rusak, berbuat melampaui batas hingga menjadikan orang lain menderita. Begitu pula sebaliknya, agama ingin mengajak orang untuk mengembangkan sifat kasih sayang dan kedamaian dengan sesama. 

Nabi Muhammad dikenal oleh semua orang sebagai sosok yang jujur hingga Ia dijuluki al amien yang artinya adalah orang yang dapat dipercaya. Utusan Tuhan yang terakhir ini juga menyandang sifat mulia, misalnya santun, peduli kepada semua orang, tidak pernah merendahkan orang lain, pemaaf, sabar, istiqomah, selalu mengedepankan keadilan terhadap siapapun, berpihak kepada kebenaran, dan juga tidak pernah mengajarkan untuk merusak tempat ibadah. Oleh karena itu, seumpama ada pihak-pihak yang mengganggu gereja yang sedang digunakan kebaktian natal, maka dipastikan mereka itu bukan berasal dari penganut agama yang benar-benar mengerti tentang agamanya. Wallahu a�lam (Prof Imam Suprayogo : Ketua Umum Jam’iyyatul Islamiyah)

Reaksi: